Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Showing posts with label Cerita Mesum. Show all posts
Showing posts with label Cerita Mesum. Show all posts
Cerita Threesome Aku dan 3 Sepupu Sange

Cerita Threesome Aku dan 3 Sepupu Sange

 Terviral.id - Sebelumnya kuperkenalkan diri namaku Rudy tinggi 170 cm berat badan 55 kg umurku sekarang 20 tahun asalku dari Sragen sekarang aku telah masuk jenjang perguruan tinggi negeri di kota Solo.

Pengalaman seks yang pertama kualami terjadi sekitar 4 tahun lalu, tepatnya waktu aku masih duduk di bangku SMU kelas 1 berumur 16 tahun. Karena rumahku berasal dari desa maka aku kost dirumah kakakku. Saat itu aku tinggal bersama kakak sepupuku yang bernama Mbak Fitri berusia 30 tahun yang telah bersuami dan mempunyai 2 orang putri yang masih kecil-kecil, namun di tempat tinggal bukan hanya kami berempat tapi ada 2 orang lagi adik Mbak Fitri yang bernama Wina waktu itu berumur 19 tahun kelas 3 SMK dan adik dari suami kak Fitri bernama Asih berusia 14 tahun.

Kejadian tersebut terjadi karena seringnya aku mengintip mereka betiga saat mandi lewat celah di dinding kamar mandi. Biarpun salah satu dianatara mereka suadah berumur kepala 3 tapi kondisi tubuhnya sangat seksi dan menggairahkan payudaranya montok, besar dan belahan vaginanya woow…terlihat sangat oh…oooght nggak ku-ku bo…

Saat malam hari saat aku tidur dilantai beralaskan tikar, di ruang tamu yang gelap bersama Mbak Wina, awalnya sich aku biasa-biasa saja tapi setelah lama seringnya aku tidur bersama Mbak Wina maka aku akhirnya tak tahan juga. Malam-malam pertama saat dia tertidur pulas aku cuma berani mencium kening dan membelai rambutnya yang harum. Malam berikutnya aku sudah mulai berani mencium bibirnya yang seksi mungil, tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang padat berisi lalu memijat-mijat vaginanya yang, oh ternyata empuk bagai kue basah yang……oh…oh.., aku melihat matanya masih terpejam pertanda ia masih tertidur tapi dari mulutnya mendesah dengan suara yang tak karuan.

“Ah…..ught…..hhhhhh….hmmmm” desahan Mbak Wina mulai terdengar.
Tanganku terus bergerilya menjamah seluruh tubuhnya.saat aku menciumi vaginanya yang masih tertutup calana, ia mulai terbangun aku takut sekali jangan-jangan ia akan berteriak atau marah-marah tapi dugaan ku meleset.
Ia malah berkata, ”Dik teruskan….. aku sudah lama mendambakan saat-saat seperti ini ayo teruskan saja……..”
Bagai mendapat angin segar aku mulai membuka t-shirt yang ia gunakan kini terpampang buah dada yang seksi masih terbungkus BH. BH-nya lalu kubuka dan aku mulai mengulum putingnya yang sudah mengeras gantian aku emut yang kiri dan kanan bergantian.

“Mbak, maafkan aku tak sanggup menahan nafsu birahiku!”
“Nggak apa-apa kok dik aku suka kok adik mau melekukan ini pada mbak karena aku belum pernah merasakan yang seperti ini” jawab Mbak Wina.
Setelah puas kupermainkan payudarnya lalu aku mulai membuka rok bawahannya.biarpun kedaan gelap gulita aku tahu tempat vagina yang menggiurkan, terus kubuka CD nya, lalu kuciumi dengan lembut.
“Cup…cup…sret…. srettttttttttt”, suara jilatan lidahku.
“Ought……ought….terus dik enak…..!!!”
Karena takut ketahuan penghuni rumah yang lain aku dengan segera mengangkan kedua kakinya lalu kumasukkan penisku yang mulai tegang kedalam vaginanya yang basah.

“Ehmm…oh…ehhhhh…. mmmmhhh”, rintih kakakku keenakan.
Setelah kira-kira setengah jam aku mulai merasakan kenikmatan yang akan segera memuncak demikian juga dengan dia.
“Crot..cret…crettttttt…. crettttttttttt”, akhirnya spermaku kukeluarkan di dalam vaginanya.
“Oh……”
Rupanya ia masih perawan itu kuketahui karena mencium bau darah segar.
“Terima kasih dik kamu telah memuaskan Mbak, Mbak sayang padamu lain kali kita sambung lagi yach?”
“Ok deh mbak”, sahutku.

Setelah selesai memakai pakaian kembali aku dan dia tidur berpelukan sampai pagi. Sebenarnya kejadian malam itu kurang leluasa karena takut penghuni rumah yang lain pada tahu,sehingga suatu ketika kejadian itu aku ulang lagi.
Masih ingat dalam ingatan hari itu minggu pagi,saat mbak Fitri dan adiknya Asih bersama keuarga yang lain pergi ke supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.Karena keadaan rumah yang sepi yang ada hanya aku dan Mbak Wina, aku mulai menutup seluruh pintu dan jendela. Kulihat Mbak Wina sedang menyeterika dengan diam-diam aku memeluknya dengan erat dari balakang.

“Dik jangan sekarang aku lagi nyetrika tunggu sebentar lagi yach…… sayang….!” pinta Kak Wina.
Tapi aku yang sudah bernafsu nggak memperdulikan ocehannya, segera kumatikan setrika, kuciumi bibirnya dengan ganas.
“Hm…eght…. hmmmmm……. eght…!”

Karena masih dalam posisi berdiri sehingga tak leluasa melakukan cumbuan, aku bopong ia menuju ranjang kamar.
Kubaringkan ia di ranjang yang bersih itu lalu segera kulucuti semua pakaiannya dan pakaian ku hinggas kami berdua telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel. Wow……tubuh kakakku ini memang benar sempurna tinggi 165 cm berat sekitar 50 kg sungguh sangat ideal, payudaranya membusung putih bagaikan salju dengan puting merah jambu dan yang bikin dada ini bergetar dibawah pusarnya itu lho……. bukit kecil kembar ditengahnya mengalir sungai di hiasai semak-semak yang rimbun.

Kami berdua tertawa kecil karena melihat tubuh lawan jenis masing-masing itu terjadi sebab saat kami melakukan yang pertama keadaan sangat gelap gulita tanpa cahaya. Sehingga tidak bias melihat tubuh masing-masing.
Aku mulai menciumi muka tanpa ada yang terlewatkan, turun ke lehernya yang jenjang kukecupi sampai memerah lalu turun lagi ke payudaranya yang mulai mengeras, kujilati payudara gantian kanan kiri dan kugigit kecil bagian putingnya hingga ia menggelinjang tak karuan.

Setelah puas bermain di bukit kembar tersebut aku mulai turun ke bawah pusar, ku lipat kakinya hingga terpampang jelas seonggok daging yang kenyal di tumbuhi bulu yang lebat. Lidahku mulai menyapu bagian luar lanjut ke bagian dinding dalam vagina itu, biji klitorisnya ku gigit pelan sampai ia keenakan menjambak rambutku.
“Ught..ugh…hah oh….oh…..”desahan nikmat keluar dari mulut Kak Wina.

Setelah kira-kira 15 menit aku permainkan vaginanya rasanya ada yang membanjir di vaginanya rasanya manis asin campur aduk tak karuan kusedot semua cairan itu sampai bersih, rupanya ia mulai orgasme. Mungkin saking asyiknya kami bercumbu tanpa kami sadari rupanya dari tadi ada yang memperhatikan pergumulan kami berdua, Mbak Fitri dan adik suaminya, Asih sudah berdiri di pinggir pintu. Mungkin mereka pulang berdua tanpa suaminya dan kedua anaknya yang masih mampir ke rumah Pakdhenya mereka ketuk pintu tapi nggak ada sahutan lalu mereka menuju pintu daur yang lupa tak aku kunci. Aku dan Mbak Wina kaget setengah mati, malu takut bercampur menjadi satu jangan-jangan mereka marah dan menceritakan kejadian ini pada orang lain. Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan kami berdua, mereka bahkan ikut nimbrung sehingga kami menjadi berempat.

“Dik main gituan kok kakak nggak di ajak sich kan kakak juga mau, sudah seminggu ini suami kakak nggak ngajak gituan”, ucap Mbak Fitri.
“Ini juga baru mulai kak!” sahutku.
“Mas aku boleh nyoba seks sama Mas?” tanya Asih.
“Boleh”.
Aku dan Kak Wina selanjutnya menyuruh mereka berdua melepas seluruh pakaiannya.
“Ck.. ck…ck……ck……”, guman ku.
Sekarang aku dikerubung 3 bidadari cantik sungguh beruntung aku ini.

Mbak Fitri tubuhnya masih sangat kencang payudaranya putih agak besar kira-kira 36 B vaginanya indah sekali. Sedangkan Asih tubuhnya agak kecil tapi mulus, dadanya sudah sebesar buah apel ukuranya 34 A vaginanya kelihatan sempit baru ditumbuhi bulu yang belum begitu lebat. Pertama yang kuserang adalah Mbak Fitri karena sudah lama aku membayangkan bersetubuh dengannya aku menciumi dengan rakus pentilnya kuhisap dalam-dalam agar air susunya keluar, setelah keluar kuminum sepuasnya rupanya Mbak Wina dan Asih juga kepingin merasakan air susu itu sehingga kami bertiga berebut untuk mendapatkan air susu tersebut, sambil tangan kami berempat saling remas, pegang dan memasukam ke dalam vagina satu sama lain. Baca selengkapnya!


Kisah Sex Siapa Takut Jatuh Cinta? 2

Kisah Sex Siapa Takut Jatuh Cinta? 2

Biodataviral.com - Hari-hari terus berlalu, hingga aku betul-betul merasa sehat. Malam ini adalah malam ke-5 dimana aku menginap di apartemen mewahnya Steve. Saat itu aku sedang membaca-baca buku pelajaran sekolah, agar tak ketinggalan, sambil tengkurap diranjang. Steve yang habis mandi keluar dari kamar mandi dan menimbulkan bau harum yang sensasional sekali. Aku menoleh kearah Steve, begitupun sebaliknya. Dia tersenyum manis sekali padaku. Sambil masih mengenakan lilitan handuk dipinggangnya, ia mendekatiku. Dibawah keremangan lampu baca, aku dapat melihat tubuh atletis Steve yang menawan. Memang tidak seperti Indra yang berotot bagaikan binaraga, tapi Steve memiliki lekuk tubuh yang begitu sexi dan tonjolan otot-otot yang seimbang. Tubuhnya putih mulus, bersih dan wangi sabun mahal. Otot dadanya tersembul sexi sekali, dengan puting susunya yang tegang berdiri kemerah-merahan. Ingin sekali rasanya aku meraba tubuhnya yang begitu bagus.


“Don, kok kamu bengong gitu sih ngelihat aku? Kenapa..?”
“Mmh, nggak kok nggak kenapa-kenapa”, jawabku sambil membalikan badan terlentang tepat menghadap kearahnya.
“Steve.. mmh.. kamu cakep yah”, kataku polos dan tak sadar dengan apa yang kuucapkan barusan.
“Kamu juga.. kalau nggak, mana mau aku bawa kamu kesini”, katanya nakal.
“Kamu jangan ambil pusing dengan anak-anak badung itu ya, mereka memang kalau mengerjai orang suka agak kelewatan, dulu aku juga dibegitukan, sama seperti kamu”
“Mmh maksud kamu..?”, tanyaku.
“Mereka sengaja menentukan siapa-siapa saja yang berhak menjadi anggota geng mereka, dengan catatan anak tersebut harus difucking terlebih dulu oleh mereka ber-3”
“Hah..?”, kataku serasa tak percaya bahwa mereka benar-benar kelainan.
“Kamu marah sama mereka Don?”, tanya Steve.
“Mmh nggak kok, sebenarnya.. mmh.. aku.. mmh, aku”
Steve hanya nyengir mendengar jawabku yang terbata-bata itu.
“Oke oke, kamu nggak perlu lanjutkan, aku sudah tahu kok. Dari cara kamu memandangku saja aku sudah tahu kalau kamu sebenarnya juga suka sama cowok kan?”, tanyanya langsung menembak kesasaran.

Setelah berkata-kata itu, tiba-tiba Steve menduduki perut bawahku dengan mengangkangkan kakinya, ia mulai membuka lilitan handuk putihnya. Seperti tersihir, aku terbujur kaku menyaksikan pemandangan yang hampir-hampir aku tak percaya bahwa ini bukan mimpi. Lilitan handuk itupun terlepas, dan Steve mulai membuka lipatan sampingnya kearah selangkangannya.



“Don, kamu suka aku?”
Aku hanya bisa mengangguk kecil dan berkata, “Steve, selama ini kamu hanya hadir dalam mimpi-mimpiku, mungkinkah ini semua nyata?”
“Kita lihat saja malam ini, apakah ada chemistry antara kamu dan aku”.
Sambil berkata demikian, Steve menbuka handuknya. Tersembulah keluar sebuah batang burung diantara lebatnya bulu-bulu halus disekitarnya. Jembut Steve ternyata lebih lebat dibanding punya Jo. Sama seperti Roger, Steve juga belum disunat. Lanjut baca!


Kisah Sex Siapa Takut Jatuh Cinta? 1

Kisah Sex Siapa Takut Jatuh Cinta? 1

Aopok.com - Namaku Doni, dari latar belakang keluarga yang tidak mampu. Sebagai anak pertama dari keluarga yang pas-pasan, aku selalu berusaha membantu orang tuaku. Beruntung aku memiliki otak yang lumayan cemerlang dan wajah yang.. mmh.. kata orang sih cucok sekali. Sejak kecil hingga kini aku berusia 16 tahun, aku selalu mendapat beasiswa. Bahkan tak jarang aku mendapat uang jajan dari hasilku mengajari teman-teman sekolahku. Kuanggap uang itu adalah rasa terima kasih atau rasa kasihan dari mereka, tapi lumayanlah sehingga aku bisa menabung sedikit demi sedikit.


Setelah lulus SMP, aku ikut pamanku ke kota J. Disini aku mendapat tawaran beasiswa disebuah sekolah khusus pria dengan standar internasional yang sangat bergensi dan mutu pendidikan serta fasilitas kelas satu. Meskipun aku anak baru dan tidak sekaya yang lain, aku merasa cocok dan betah bersekolah disana. Memang ada beberapa anak kaya yang nakal dan pemalas, namun dengan kepandaian dan akalku yang panjang, kian hari mereka sepertinya makin segan dengan diriku.

Setengah tahun sudah aku mengeyam pendidikan ditempat ini dengan hasil studi yang sangat membanggakan. Teman-temanku semakin banyak bahkan beberapa anak senior pun mau bersahabat denganku. Suatu hari aku dipanggil kepala sekolah untuk membicarakan mengenai mau tidaknya aku bergabung dengan klub renang mereka. Awalnya aku merasa minder sekali, bukan saja karena aku adalah yang paling miskin, tapi aku juga adalah siswa junior pertama yang bergabung. Namun kepala sekolah meyakinkan aku, bahwa aku pasti mampu membuat nama sekolah ini semakin harum, disamping Roger D, Jonathan F, Indra B dan Steve E.

Mereka ber-4 ini siswa kelas tiga yang paling kaya, paling keren dan ditakuti oleh semua murid bahkan guru-gurupun segan berurusan dengan mereka. Namun menurutku, diantara mereka Steve lah yang paling sopan, pendiam, bekarisma, tidak sombong dan senyumannya itu yang paling.. mmh sungguh mempesona.

Sore itu aku diminta guru olah raga untuk datang ke gedung kolam, katanya sih
untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut mengenai kerjasama tim oleh ke-4 siswa tersebut. Suasana sekitar gedung itu sepi sekali, mungkin karena sudah bukan jam sekolag lagi. Pelan-pelan aku membuka pintu kaca dan masuk kedalam gedung kolam itu. Wah,.. kerennya. Tapi, kok sepi, aku sama sekali tidak melihat orang, bahkan air dalam kolam pun begitu tenang solah-olah sudah beberapa jam tempat ini tidak ada aktifitasnya.

“Halo,.. apa ada orang?”, teriakku.
Namun yang menjawabku hanya gema suaraku sendiri. Kupikir, baiklah aku menunggu saja sambil berjongkok dipinggir kolam. Tapi, hei.. tiba-tiba ada orang yang mendorongku dari belakang sehingga aku tercebur dan basah kuyup seluruh seragamku. Setelah berusaha mengatasi, Lanjut baca!


Kisah Ngentot Pantat Gadis di Atas Kasur

Kisah Ngentot Pantat Gadis di Atas Kasur

Aopok.com - Pada tahun 2024 saya tercatat sebagai siswa baru pada SMUN 3 pada waktu itu sebagai siswa baru, yah.. acara sekolahan biasa saja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolah saya yaitu di SMKN 3.


Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, saya lihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 19 tahun), mempunyai wajah yang manis banget dan kulit walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, dia jawab L—- (edited), setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama saya membuat saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah.., jalan terus dong.

Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 saya telah berdiri didepan rumahnya sambil mengetuk pagarnya tidak lama setelah itu L—-muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.
Saya tanya, “Mana ortu kamu..”, dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.
“Oohh jawab saya,” saya tanya lagi “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku dan tanpa disuruHPun dia langsung memeluk dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR).

Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami langsung pulang ke rumahnya setelah tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang.
Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk!, Papa saya kayaknya belum datang”. Akhirnya setelah menaruh motor saya langsung mengikutinya dari belakang saya langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di depanku, saya lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang “Pembantu kamu mana?”, dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.
“oohh..”, jawab saya.
Saya tanya lagi, “jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?”, dia jawab iya.
“Terus Papa kamu yang bukain siapa..” Wajib baca!


Cerita Anal Seks Kenikmatan Pantat Nia

Cerita Anal Seks Kenikmatan Pantat Nia

Iklans.com - Nama saya Firman, saya berusia 23 tahun dan saat ini saya kuliah dan bekerja. Cerita ini bermula pada saat saya jalan-jalan dengan teman-teman saya di suatu kawasan di Jakarta yang memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda.

Saat saya sedang melintas di jalan Sudirman saya melihat seorang wanita dan saya menghentikan kendaraan saya lalu kami pun berkenalan.


Wanita tersebut bernama Nia dan dia masih berumur 19 tahun dengan tinggi kurang lebih sekitar 175 dan dengan ukuran bra sekitar 36 C akhirnya saya menawarkan dia untuk mengantar pulang dan dia pun setuju, maka akhirnya kami jalan pulang tanpa ada apa-apa.

Kesokan harinya pada pukul 10.00 Nia menghubungi saya via HP saya
“Hallo, Firman ya?”
“Siapa nih?”, tanya saya
“Nia, masa lupa yang semalam kenalan..”
“Oh, iya.. lagi dimana nih.”
“Lagi di Blok M, kamu ada acara nggak hari ini?”
“Ehmm, nggak ada tuh kenapa?”, jawab saya
“Bisa jemput?”
“Ya udah dimana?”
“Di McDonald Blok M aja ya jam 11.00”
“Ok”

Singkat cerita langsung saya meluncur ke arah Blok M

Sesampainya disana kami ngobrol sejenak lalu kami memutuskan untuk pergi.
“Mau kemana nih?” tanya saya
“Terserah kamu aja..”
“Main kerumahku sebentar yuk mau nggak?”
“Ok”, jawabnya dengan santai.

“Ga takut?”, tanya saya
“Takut apa?”
“Kalo diperkosa gimana?”
Tapi dia dengan santainya menjawab, “Ga usah diperkosa juga mau kok.. he.. he..” sambil melirik kearahku dan mencubit manja pinggangku.
Kemudian saya bertanya, “Bener nih?”
Dia menjawab, “Siapa takut?”

Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai saya lalu mempersilahkan Nia untuk masuk lalu kami duduk bersebelahan dan saya menggoda dia.
“Bener nih nggak takut diperkosa?” Lanjut baca!


Kisah Ngentot Keperawanan Vagina dan Anus Ani

Kisah Ngentot Keperawanan Vagina dan Anus Ani

Tradingan.com - Aku seorang mahasiswa berumur 21 tahun. Pada saat liburan semester aku pulang ke kampungku di Garut. Untuk mengatasi kejenuhan, aku jalan-jalan di kota tersebut. Dan masuk ke sebuah pusat belanja di kota kecil itu. Secara tak sengaja aku memandangi seorang gadis yang bisa dikatakan cantik. Wajahnya memancarkan kecantikan alami yang jarang ditemui pada seorang gadis kota.


Singkat cerita kami berkenalan. Namanya Ani, berumur 16 tahun. Duh, senang sekali aku bisa kenalan dengan gadis seperti dia. Bulan demi bulan telah berlalu, kamipun semakin akrab dan sering berhubungan lewat telepon. Singkat kata, kamipun sepakat untuk menjadi sepasang kekasih.

Pada liburan semester selanjutnya, kami berjanji bertemu di rumahnya. Rumahnya sih sederhana, maklum bapaknya hanya pedagang kecil, tapi bukan itu yang aku lihat. Malam itu kami berdua menonton layar tancap, hal yang sebenarnya cukup simple tapi yah namanya juga lagi kasmaran. Kami pulang jam sembilan malam atas keinginan Ani. Ternyata sampai di rumah pacarku, kami hanya menerima titipan kunci rumah. Keluarganya sedang pergi menegok teman ayah pacarku yang sedang sakit keras.

Malam itu dingin sekali, Ani permisi untuk ganti pakaian. Saat kulihat Ani dengan pakaiannya yang sederhana itu aku terpaku, betapa cantik dan anggunnya dia walaupun hanya memakai pakaian biasa. Aneh, ada seuatu yang aneh yang menjalar ke perasaanku.
“Lho, ada apa Kang?”, tanya Ani.
“Ah, nggak ada apa-apa!”, jawabku.
“Kok melihat Ani terus?”, tanyanya lagi.
“Ngak kok!”, jawabku.
“Kamu cantik, An”.
“Ah Akang!”, katanya lagi dengan tersipu. Wajib baca!


Cerita Ngewe Cewek Ayam Goreng

Cerita Ngewe Cewek Ayam Goreng

Aopok.com - Pada waktu itu aku pulang dari kampus sekitar pukul 20:00 karena ada kuliah malam. Sesampainya di tempat kost, perutku minta diisi. Aku langsung saja pergi ke warung tempat langgananku di depan rumah. Warung itu milik Ibu Sari, umurnya 30 tahun. Dia seorang janda ditinggal mati suaminya dan belum punya anak. Orangnya cantik dan bodynya bagus. Aku melihat warungnya masih buka tapi kok kelihatannya sudah sepi. Wah, jangan-jangan makanannya sudah habis, aduh bisa mati kelaparan aku nanti. Lalu aku langsung masuk ke dalam warungnya.

“Tante..?”
“Eee.. Dik Sony, mau makan ya?”
“Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?”
“Aduhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang.”
“Waduhh.. bisa makan nasi tok nich..” kataku memelas.
“Kalau Dik Sony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Sony mau nggak?”
“Terserah Tante aja dech..”
“Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?”
“Mari saya bantu Tante.”


Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya..
“Dik Sony, tunggu sebentar ya. Oh ya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu..”
“Ya Tante..” jawabku.

Lalu Tante Sari masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu. Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus.

Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat.
“Dik.. Dik Sony.. coba kemari sebentar?”
“Ya Tante.. sebentar..” kataku sambil berlari menuju dapur.

Setelah sampai di pintu dapur.
“Ada apa Tante?” tanyaku.
“E.. Tante cuman mau tanya, Dik Sony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?”
“Eee.. bagian paha aja, Tante.” kataku sambil memandang tubuh Tante Sari yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Tubuhnya begitu indah.
“Dik Sony suka paha ya.. eehhmm..” katanya sambil menggoreng ayam.
“Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih.” kataku.
“Aduhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhh..”
Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa.

“Nggak ada semutnya kok Tante..” kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%.
“Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang.” pintanya.
“Baik Tante..” lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China.
“Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?”
“Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Sony pintar dech..” katanya membuatku jadi tersanjung.
“Sama-sama Tante..” kataku.
“Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Sony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya.” katanya.
“Baik Tante, terima kasih?” kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu. Wajib baca!


Cerita Dewasa Asmara di Toko Buku

Cerita Dewasa Asmara di Toko Buku

Aopok.com - Pada suatu siang sekitar jam 12-an aku berada di sebuah toko buku Gramedia di Gatot Subroto untuk membeli majalah edisi khusus, yang katanya sih edisi terbatas. Hari itu aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu.

Sebenarnya potongan badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan cukup tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan cenderung terkesan sangar. Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek, mataku agak kecil selalu menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku cukup pas deh. Jadi tidak ada yang istimewa denganku.


Saat itu keadaan di toko buku tersebut tidak terlalu ramai, meskipun saat itu adalah jam makan siang, hanya ada sekitar 7-8 orang. Aku segera mendatangi rak bagian majalah. Nah, ketika aku hendak mengambil majalah tersebut ada tangan yang juga hendak mengambil majalah tersebut. Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik) dan kemudian saling melepaskan pegangan pada majalah tersebut hingga majalah tersebut jatuh ke lantai. “Maaf..” kataku sambil memungut majalah tersebut dan memberikannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang berumur sekitar 37 tahun (dan ternyata tebakanku salah, yang benar 36 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak berani), tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya cukup membusung. “Busyet! molek juga nih ibu-ibu”, pikirku.

“Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah.. saya sudah mencari ke mana-mana tapi nggak dapet”, katanya sambil tersenyum manis.
“Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak..”
“Kamu suka juga fotografi yah?”
“Nggak kok, cuma buat koleksi aja kok..”
Lalu kami berbicara banyak tentang fotografi sampai akhirnya, “Mah, Mamah.. Ira sudah dapet komiknya, beli dua ya Mah”, potong seorang gadis cilik masih berseragam SD.
“Sudah dapet Ra.. oh ya maaf ya Dik, Mbak duluan”, katanya sambil menggandeng anaknya.
Ya sudah, nggak dapat majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat buku terbitan yang baru saja.

Sekitar setengah jam kemudian ada yang menegurku.
“Hi, asyik amat baca bukunya”, tegur suara wanita yang halus dan ternyata yang menegurku adalah wanita yang tadi pergi bersama anaknya. Rupanaya dia balik lagi, nggak bawa anaknya.
“Ada yang kelupaan Mbak?”
“Oh tidak.”
“Putrinya mana, Mbak?
“Les piano di daerah Tebet”
“Nggak dianter?
“Oh, supir yang nganter.”

Kemudian kami terlibat pembicaraan tentang fotografi, cukup lama kami berbicara sampai kaki ini pegal dan mulut pun jadi haus. Akhirnya Mbak yang bernama Maya tersebut mengajakku makan fast food di lantai bawah. Aku duduk di dekat jendela dan Mbak Maya duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak. Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya sangat hangat.

Busyet dah, lengan kananku selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sehingga pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia beberapa kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut. Wajib baca!


Cerita Arthur – fitness and sex makes you

Cerita Arthur – fitness and sex makes you

Iklans.com - Saya dan teman-teman kantor pergi ke Plaza Indonesia untuk makan siang di Spice Garden. Food court ini cukup penuh tapi beruntung kami dapat meja. Saya lalu pergi membeli makan sementara dua teman saya menunggu meja. Sambil antri untuk pesan sup buntut, saya memperhatikan banyak wanita-wanita cantik yang sedang makan siang. Sang pelayan menanyakan saya mau pesan apa, saya jawab, “Sup buntut tapi jangan banyak tulang ya”.

Setelah mendapat pesanan saya, saya masih harus antri lagi untuk membayar. Di sebelah kiri saya ada seorang wanita yang ikut antri untuk membayar. Awalnya saya tidak memperhatikannya karena sedang sibuk membalas SMS. Tiba-tiba nampan piring saya tersenggol dengan keras dan wanita sebelah saya menoleh ke arah saya.


“Aduh maaf Pak tidak sengaja”
“Tidak apa-apa,” jawab saya sambil tersenyum. Saya perhatikan wajahnya ternyata cantik juga.
“Pesan sup buntut juga?” kata saya untuk memancing pembicaraan.
“Iya, sudah bosan makan yang lain” sahutnya.
“Saya Arthur”
“Halo, nama saya Siska (bukan nama asli)” jawabnya.

Antrian membayar di kasir berjalan dengan pelan, saya memakai kesempatan ini untuk ngobrol dengan Siska. Orangnya ramah dan periang. Tingginya sekitar 165 cm, dadanya lumayan besar dan pantatnya terlihat bulat dan indah dibalik rok yang dikenakan. Saya memperhatikan lebih seksama, ternyata wajahnya mirip Tessa Kaunang. Setelah membayar makanan, kami bertukar kartu nama, lalu saya menghampiri teman-teman saya yang sudah menunggu dengan wajah bete.

“Pantesan saja lama, keasyikan kenalan dengan cewek,” ujar teman saya dengan sewot.

Jum’at Sore

Hari Jum’at sore, saya agak santai di kantor. Semua tugas sudah selesai dan tinggal diserahkan ke boss. Sambil menunggu jam 5 sore, saya teringat kembali ke wanita yang kenalan di Plaza Indonesia dua hari yang lalu. Siapa ya namanya? Saya bertanya dalam hati. Saya cari kartu namanya di dalam dompetku, untung ada! Lalu saya telepon nomor kantornya, setelah menunggu sejenak akhirnya ada yang mengangkat.

“Selamat sore, dengan Siska”
“Halo Siska, ini Arhur. Masih ingat nggak?”
“Ingat dong, kirain kamu sudah lupa dengan saya, nggak nelepon sama sekali”
“Maaf, habisan ada project yang due hari ini, jadi sibuk sekali. Ngomong-ngomong, mengganggu nggak saya telepon sekarang?”
“Oh tidak sama sekali, lagi nyantai nih. Kan sudah mau weekend”
“Ada acara apa hari Sabtu besok? Mau nonton nggak?” saya menawarkan.
“Besok pagi sampai siang, saya ada acara kawinan saudara. Pengennya sih besok sore mau fitness dan berenang, sudah seminggu saya nggak olah raga. Olah raga aja yuk, mau nggak?” kata Siska.

“Boleh juga, dimana dan jam berapa?”
“Di aparteman saya aja di **** jam 4 sore ya”
“OK, besok sore saya kesana”

Kami lalu bertukar nomor handphone lalu mengakhiri pembicaran ditelepon.

Sabtu Sore

Jam 15:45 saya tiba di gerbang kompleks aparteman Siska. Apartemannya sangat mewah sehingga keamanan cukup ketat. Petugas satpam dengan ramah menanyakan saya mau kemana, saya jawab ke aparteman Siska unit *** di tower ***. Satpam mengkonfirmasi nama Siska dan saya diijinkan masuk. Lanjut baca!


Cerita Ngentot Adik Sang Strudara 2

Cerita Ngentot Adik Sang Strudara 2

Aopok.com - Kuangkat serta kubuka pahanya yang putih mulus itu, terlihatlah dengan jelas dan menggairahkan lubang kenikmatan bagi pria itu berwarna merah muda dan basah oleh cairan yang telah kujilat dan kutelan dengan penuh kenikmatan. Sekali lagi kukecup dan kujilat kedua bibir indah itu dan kugigit kecil klitorisnya yang mungil tapi bukan main menggemaskan. “Dhityaa.. oohh.. mmff!” dia mengerang halus mungkin karena sadar bahwa di ruang tengah ada Mas Echa dan di kamar bawah ada Mbak Ranti, tiba-tiba dia menekankan kepalaku ke vaginanya sehingga aku agak gelagapan untuk bernafas disertai jepitan kedua pahanya di kiri kanan kepalaku, terasa cairan hangat kental melumuri lidahku, bibirku, hidungku. Woow, dia mencapai orgasme. Terdengar sayup-sayup jeritan tertahan keluar dari mulut Mbak Evie, “Aduuh.. Dhiit, kamuu.. nggmm.. gilaa.. oohh..”


Beberapa saat terasa jepitan kedua pahanya masih terasa kuat dan perlahan-lahan mengendur dan akhirnya aku dapat bernafas dengan lega setelah Mbak Evie melepaskan jepitan pahanya di kepalaku serta melepaskan tekanan tangannya di kepalaku dari vaginanya yang nikmat. Mulutku penuh dengan cairan hangat kental dan agak asin itu, tanpa berpikir panjang langsung kutelan karena aku tahu bahwa cairan itu intisari dari makanan yang penuh gizi, sementara tanganku membenarkan penisku yang terjepit CD-ku sendiri supaya agak bebas dari ketegangan yang baru saja terjadi.

“Ooohh.. Dhitya, kamu nakal deh, tapi pinter..” bisiknya sambil tersenyum, kulihat dia dari arah pangkal paha yang putih mulus itu.
“Mbak.. Mbak sendiri yang buat gara-gara, jadi aku nggak tahan untuk itu,” jawabku perlahan sambil menghela nafas dan antara sadar dan tidak menikmati apa yang baru saja terjadi, tapi agak takut kedengaran orang lain.
“Dhiit.. sini dong sayaang..” kata Mbak Evie sambil mengulurkan kedua tangannya, kusambut tangannya dan dia menarikku dan mengecup bibirku serta menciumi seluruh wajahku yang masih basah dengan sisa-sisa air kenikmatan yang keluar dari vaginanya itu seolah tidak dirasakannya sama sekali.
“Kamu telah memberikan kepuasan pada Mbak malam ini, Mbak nggak sangka kamu hebat dengan permainan oral seks kamu.” sambil membelai wajahku dengan lembut. Edan! aku sendiri jadi sadar sekarang bahwa aku baru saja mengalami permainan oral seks dengan wanita yang selama ini menjadi impianku untuk bermain cinta.

“Mas Iwan nggak pernah berbuat seperti apa yang kamu lakukan tadi, aahh..” keluhnya lagi, Mas Irawan/Iwan adalah suaminya. Sementara aku berkeringat dingin menahan nafsu seksku yang kian memuncak melihat pemandangan di depanku ini, tubuh indah setengah telanjang dari dada ke bawah terbuka tanpa sehelai benang menempel tapi aku sendiri tidak berani untuk mencoba-coba yang aneh-aneh sampai tangan Mbak Evie menyusup ke dalam celanaku dan menyentuh serta meremas penisku yang sudah tegang sejak aku melakukan oral seks terhadapnya.

“Aduuh.. panjang amat burungmu ini Dhit, berapah sih ukurannya?” tanyanya berbisik manja.
“16 cm Mbak.. tapi jangan sekarang, Mbak.. aku takut nanti Mas Echa atau Mbak Ranti bangun gara-gara ini.. mati aku nanti, Mbak..” kataku berbisik dan was-was penuh kekawatiran tapi juga kepingin karena memang benar aku sudah seperti keluarga sendiri bagi Mas Echa dan Mbak Ranti, kalau aku tertangkap basah bercinta dengan adiknya, habis, tamat, the end riwayatku.
“Ah.. nggak pa-pa Dhit, kamar ini kan di atas dan terpisah agak jauh dari kamar Mas Echa dan mereka sudah pada mimpi.. sinii jangan jauh-jauh tidurannya.” jawabnya lagi merayuku sambil tetap meremas lembut penisku dan menarik tubuhku supaya tetap menempel dengan tubuhnya. Aduh Mak, meskipun aku amat bernafsu, aku masih ragu-ragu. “Teruskan Dhit, kau memang bodoh kalau membuang kesempatan emas yang sudah kamu tunggu-tunggu,” kata hatiku.

Tertegun sejenak, aku kembali sadar dengan remasan tangan di penisku dan kecupan bibir sensual Mbak Evie di pipiku, terus bergeser ke mataku, akhirnya bibir kami berpagut penuh nafsu birahi yang tinggi, tanganku kembali mengusap serta meremas lembut susunya serta puting Mbak Evie yang menggemaskan itu, sementara Mbak Evie juga tidak ingin kalah agresif menggerakkan tangannya naik turun pada penisku yang masih di dalam celana jeans-ku.

“Dhitya, buka celanamu sayang, aku jadi gemas banget dan biar tanganku bebas mengelus burungmu ini,” katanya lagi. Wajib baca!


Cerita Ngewe Adik Sang Strudara 1

Cerita Ngewe Adik Sang Strudara 1

Aopok.com - Akhir 2020 merupakan batas bagiku untuk harus menyelesaikan kuliah pada Fak.Teknik Mesin di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Aku butuh biaya yang tidak sedikit dan umurku telah mencapai hampir 27 tahun. Sehingga hampir segala macam jenis pekerjaan untuk mendapatkan minimal 60% tambahan untuk biaya kuliah, ujian lokal maupun ujian negara kuusahakan semaksimal mungkin karena aku sudah menghentikan pemberian dari orang tuaku, kupikir mereka sudah cukup membiayaiku selama hampir 7 tahun selama aku kuliah. Bekerja part time antara lain aku ikut dalam pembuatan beberapa film Nasional baik di dalam negeri maupun sampai keluar negeri, mengikuti salah satu sutradara yang cukup terkenal, aku sekaligus merangkap sebagai figuran dan kru film itu sendiri.


Selama mengikuti pembuatan beberapa film di Jakarta, aku sempat berkenalan dengan salah satu pemain wanita yang pada saat itu cukup terkenal dan cukup aduhai baik wajah dan bentuk tubuhnya. Umurnya 38 tahun dengan tinggi kira-kira 164 cm serta berat badan ideal bagi wanita seumurnya, rambutnya panjang dikepang satu, pokoknya amat ideal menurut ukuran favoritku. Dia isteri seorang pengusaha dan merupakan adik dari salah satu sutradara terkenal di Jakarta untuk film-film action di saat itu dimana aku ikut bekerja. Oleh karenanya itu Mbak Evie (demikian kami menyapanya) sering menjadi pemeran pembantu dihampir semua produksi film yang kuikuti tersebut. Raut serta kelengkapan wajahnya, kehalusan dan warna kulitnya kalau boleh aku bandingkan dengan bintang sinetron masa kini mirip sekali dengan Vonny Cornelya.

Aku sendiri pada saat itu masih muda, wajahku lumayan dengan kumis hitam yang lebat, didukung dengan tinggi badan 173 cm, berat 68 kg, postur tubuhku cukup bagus yang kujaga berkat hasil olahraga keras seperti pencak silat tradisionil selama masa kuliah serta aku mempunyai sikap kebiasaan yang cukup sabar, penuh perhatian terhadap segala sesuatu yang menarik perhatianku juga kepada hal-hal yang baru khususnya dibidang fotografi dan perfilman disertai bicara apa adanya kadang seenaknya tapi tetap menjaga sopan santun khususnya kepada yang lebih tua. Ini menjadi modal utama bagiku yang pada saat itu sehingga aku amat dekat dengan Mas Mahesa Jenar (Sang Sutradara). Kedekatannya denganku membuat para figuran ingin bersahabat denganku terutama wanita-wanita muda yang cantik dan berharap untuk bisa tampil pada setiap adegan dalam setiap film yang dibuat oleh Mas Echa (kru film menyapanya dengan panggilan ini).

Perkenalanku dengan Mbak Evie berlanjut secara tidak sengaja terjadi pada saat aku bersama kru film yang lain sedang mengambil shooting bertempat di lokasi Cibodas dimana aku sudah beranjak naik dari figuran kemudian dipercaya oleh Mas Echa untuk menjadi juru foto atau ‘Still Photo’ menurut istilah perfilman (aku mempunyai hobby fotografi sampai dengan saat ini) dan akhirnya aku dipercaya sebagai asisten Mas Echa. Bekerja dengan Mas Echa, seorang sutradara yang amat baik tetapi tegas dalam memberikan kesempatan kepada setiap anggota kru film dibawah pimpinannya untuk berkembang sehingga hampir semua pekerjaan yang menyangkut pembuatan film kukuasai (kita bekerja dengan system kekeluargaan yang erat). Secara kebetulan aku juga memiliki sedikit keahlian untuk mengurut/memijat badan/anggota tubuh yang kupelajari seiring dengan kegiatan bela diri tradisionil yang telah kusebut di atas dan akhirnya para kru tahu bahwa mereka punya ‘tukang urut’ untuk relaks setelah menjalankan kegiatan sehari-hari. Inilah awal aku jadi lebih akrab dengan Mbak Evie yang manis dan menggairahkan dengan umurnya 38 tahun dan sudah mempunyai anak 2 puteri yang cantik-cantik, Cempaka yang sulung kelas 1 SMA dan Melati yang bungsu kelas 2 SMP.

Beberapa kali seperti biasanya apabila setelah kegiatan shooting selesai pada malam hari kami berkumpul bersama sutradara dan beberapa kru film yang telah menjadi akrab seperti saudara sendiri serta juga Mbak Evie berada diantara kami. Dan pada suatu saat kami sedang melakukan shooting film di sebuah villa di Cibodas.

“Dhitya, katanya jari-jari kamu pandai melemaskan otot yang kaku, coba sekarang buktikan sama Mbak kalau kamu memang benar-benar ahli.” kata Mbak Evie pada suatu malam disaat ‘break’ sehabis shooting kami berkumpul di villa Cibodas di ruang tengah yang mana hadir juga beberapa kru dan Mbak Ranti yang merupakan isteri Mas Echa, orangnya lembut dan amat baik hati, seperti biasanya sebagian kru termasuk aku duduk di lantai yang dilapisi karpet tebal.
“Iya Dhit, aku juga mau diurut badanku terutama bagian belakang dan pinggangku rasanya pegal sekali, aku sudah hampir 2 malam berturut-turut tidurku nggak nyenyak,” sambung Mas Echa yang langsung rebah telungkup di bawah dekat aku duduk bersimpuh. Lanjut baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia